Nematoda Meloidogyne spp adalah nematode penyebab penyakit yang menyerang akar. Nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) merupakan penyakit yang tergolong penting dan banyak menyerang tanaman di lahan pengembangan maupun pembenihan, sehingga banyak menimbulkan kerugian bagi petani karena terjadi penurunan produktivitasnya.Nematode ini masuk kedalam akar dan menginfeksi akar, sehingga akar akan membengkak dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada bagian akar yang membengkak ini terdapat nematode yang bersarang di dalamnya.
Nematoda Meloidogyne spp ini mempunyai beberapa spesies. Antar spesies dapat dibedakan dengan melihat cirri fisik dari nematode tersebut. Selain itu antar spesies dari genus Meloidogyne spp ini dapat dibedakan dengan melihat sidik pantat dari nematode tersebut.
Dengan melihat sidik pantat ini dapat dibedakan spesiesnya.

Pada praktikum kali ini, kami mengamati dan mengidentifikasi sidik pantat dari nematode Meloidogyne spp. Dari mengamati sidik pantat tersebut kita dapat mengetahui apa spesies dari nematode tersebut. Dari genus Meloidogyne spp ini terdapat empat spesies, diantaranya Meloidogyne incognita, M. arenaria, M. javanica, M. hapla. Dari beberapa jenis nematode itu mempunyai sidik pantat yang berbeda – beda.
Sidik pantat dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian dorsal dan bagian lateral. Pada sidik pantat bagian dorsal diantaranya garis lateral, lengkung dorsal, plasmid, sedangkan bagian ventral terdapat lubang vulva, lubang anus, dan striae.
Pada percobaan yang telah dilakukan, kita hanya mendapatkan dua jenis nematode, yaitu Meloidogyne incognita, dan meloidogyne arenaria. Sidik pantat Meloidogyne incognita mempunyai cirri utama lengkung dorsal yang persegi (bersudut 900). Pada sidik pantat Meloidogyne arenaria mempunyai ciri utama pertemuan lengkung dorsal dan ventral membentuk seperti bahu dengan tonjolan kutikula dan becabang seperti garpu.
Pada sidik pantat Meloidogyne javanica mempunyai ciri utama terdapat garis lateral yang memisahkan lengkung dorsal dan lengkung ventral. Pada sidik pantat Meloidogyne hapla mempunyai ciri khusus terdapat tonjolan – tonjolan seperti duri pada zona ujung ekor.

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman polong-polongan atau legum dari famili Fabaceae, kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Kacang tanah yang ada di Indonesia semula berasal dari benua Amerika. Masuk ke Indonesia pertama-tama diperkirakan dibawa oleh pedagang-pedagang Spanyol, pada saat melakukan pelayarannya dari Mexico ke Maluku setelah tabun 1597. Pada tahun 1863 HOLLE memasukkan Kacang Tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 SCHEFFER memasukkan pula Kacang Tanah dari Mesir. Kacang tanah merupakan sejenis tanaman tropika. Ia tumbuh secara perdu setinggi 30 hingga 50 cm (1 hingga 1½ kaki) dan mengeluarkan daun-daun kecil. Tanaman Kacang tanah bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, sedang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati, minyak dan lain-lain. Begitu banyak manfaat kacang tanah tidak terlepas dengan adanya serangan hama dan penyakit, salah satu penyakit yang merusak pertanaman kacang tanah adalah busuk batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii. Cendawan ini menyebabkan busuk pada pangkala akar dan sebelum terjadi pembusukan dan akhirnya mati, gejala lain yaitu berupa layu pada tanama. Sentra penanaman/produksi Kacang tanah di Indonesia meliputi Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, D.l. Yogyakarta, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
Selain kacang tanah, tanaman holtikutura yang juga penting yaitu kubis. Kubis atau kol (Brassicea oleracea Linn) merupaka sayuran yang mendapat prioritas untuk ditingkatkan produksinya. Salah satu kendala dalam usaha ini adalah adanya OPT baik hama maupun penyakit. Salah satu penyakit yang menyerang adalah Soft rots yang disebabkan oleh Erwinia carotovora yang tidak hanya menyerang tanaman yang masih berada dalam perkebunan tetapi uga pada saat penyimpanan atau pemasaran. Selain itu bakteri ini berkembang sangan cepat.

2.2 Deskripsi Penyakit
2.2.1 Busuk Lunak (Soft Rots)
Busuk lunak (Soft Rot) adalah penyakit yang merugikan pada tanaman-tanaman sayur, termasuk kubis-kubisan, baik di lapangan maupun dalam penyimpanan dan pengangkutan sebagai penyakit pascpanen. Penyakit tersebar umum di seluruh dunia. Meskipun di Indonesia belum pernah diteliti secara khusus, namun penyakit sering ditemukan di pertanaman maupun di pasar-pasar (Machmud, 1984; Suhardi, 1988).
Busuk lunak merupakan penyakit yang penting di Malaysia, Thailand, dan Filiphina (Beningno dan Quebral, 1977; Giatgong, 1980;Ho, 1985). Erwinia carotovora pernah menyebabkan masalah serius di Eropa dalam produksi kentang, hal ini disebabkan penanaman, pemanenan, penyimpanan dari buah kentang di bawah kondisi optimum. Tanaman dengan mudah terinfeksi patogen. Kemajuan teknologi yang dicapai ilmuan pada akhir dekade ini untuk menekan penyebaran patogen Erwinia carotovora melalui molekul signal pada patogen dikuatirkan akan manciptakan galur yang resisten. Teknik perbanyakan secara tradisional tidak dapat digunakan sebagai senjata yang ampuh karena kurangnya sifat resisten. Penelitian lebih lanjut masih dikebangkan untuk menangani masalah ini.

Gejala:
Gejala yang umum pada tanaman kubis-kubisan adalah busuk basah, berwarna coklat atau kehitaman, pada daun, batang, dan umbi. Pada bagian yang terinfeksi mula-mula terjadi bercak kebasahan. Bercak-bercak tersebut membesar dan mengendap (melekuk), bentuknya tidak teratur, berwarna coklat tua kehitaman. Jika kelembaban tinggi jaringan yang sakit tampak kebasahan, berwarna krem atau kecoklatan, dan tampak agak berbutir-butir halus. Disekitar bagian yang sakit terjadi pembentukan pigmen coklat tua atau hitam. Pada serangan lanjut daun yang terinfeksi melunak berlendir dan mengeluarkan bau yang khas. Jaringan yang membusuk pada mulanya tidak berbau, tetapi dengan adanya serangan bakteri sekunder jaringa tersebut menjadi berbau khas yang mencolok hidung (Machmud, 1984). Bau tersebut merupakan gas yang dikeluarkan dari hasil fermentasi karbohidrat kubis.

Gambar 1 kubis terserang E. carotovora
Oleh: Anggi

Penyebab :
Penyebab busuk lunak adalah Erwinia carotovora. Sel bakteri berbentuuk batang dengan ukuran (1,5×2,0)x(0,6×0,9) micron, umunya membentuk rangkaian sel-sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela 2-3 peritrik. Bakteri ini bersifat gram negatif. Hidup bakteri ini soliter atau berkelompok dalam pasangan atau rantai, termasuk jenis bakteri fakultatif anaerob. E. carotovora memproduksi banyak enzim ekstraselluler seperti pektinase yang mendegradasi pektin yang berfunsi untuk merekatkan dinding-dinding sel yang berdampingan, sellulase yang mendegradasi sellulase, hemicellulases, arabanases, cyanoses dan protease.
Suhu yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri ini yaitu berkisar 27-30oC.

Gambar 2 Erwinia carotovora

http://www.ebi.ac.uk/2can/genomes/bacteria/Erwinia_carotovora.html

Fase kritis tanaman terhadap bakteri busuk lunak:
Infeksi bakteri lebih banyak dijumpai pada tempat penyimpanan atau pada waktu pengangkutan (pascapanen) dari pada di lapangan. Bakteri busuk lunak merupakan parasit lemah yang merupakan penetrasi pada inangnya hanya melalui luka misalnya pada bercak yang diinfeksi oleh patogen lainnya, luka karena gigitan serangga, atau luka karena alat pertanian yang digunakan untuk memanen kubis.

Daur hidup penyait:
Bakteri ini dapat menyerang berbagaimacam tanaman pertanian maupun hasilnya, khususnya tanaman hortikultura seperti kentang, wortel dan lain sebagainya. E. carotovora dapat mempertahankan diri dalam tanah dan sisa-sisa tanaman dilapang. Suhu yang optimal untuk perkembangan bakteri yaitu 27oC. pada keadaan suhu rendah dan kelembaban yang rendah bakteri akan terhambat pertumbuhannya.
Pada umunya infeksi terjadi melalui luka atau lentisel. Infeksi dapat terjadi melalui luka-luka karena gigitan serangga atu alat-alat pertanian yang tertempel dengan bakteri tersebut. Larva dan imago lalat buah dapat menularkan bakteri karena serangga ini membuat luka dan mengandung bakteri dalam tubuhnya.

Teknik pengendalian:
Untuk mengendalikan penyakit ini digunakan beberapa cara antara lain:
1. Melalukan sanitasi. Menjaga kebersihan kebun khususnya dari sisa-sisa tanaman sakit sebelum penanaman.
2. Menanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat untuk menghindarkan kelembaban yang terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
3. Pada waktu memelihara tanaman diusahakan untuk sejauh mungkin menghindari terjadinya luka yang tidak perlu, khususnya pada waktu hama menyerang.
4. Pengendalian pascapanen dilakukan dengan
a. Mencucui tanaman dengna air yang mengandung chlorine
b. Krop yang terserang sebelum disimpan daun-daun yang terinfeksi dibuang dan dimusnahkan.
c. Mengurangi terjadinya luka pada waktu penyimpanan dan pengangkutan
d. Menyimpan dalam ruangan yang cukup kering, mempunyai ventilasi yang cukup, sejuk dan difumigasinya sebelumnya

Daerah sebaran dan penyebaran:
Baktei busuk lunak mempunyai daerah sebaran yang luas hampir diseluruh dunia. Di indonesia terjadi di Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

2.2.2 Penyakit Busuk Batang
Peyakit busuk batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii adalah cendawan yang polifag yaitu dapat menyerang bermacam-macam tanaman, antara lain kedelai, kacang tanah, tembakau, cabai dan terong. Penyakit ini timbul pada keadaan lembab. Patogen ini merupakan cendawan parasit fakultatif yang sebagian hidupnya sebagai saprofit.

Gejala:
Cendawan menyerang pada pangkal batang, bagian dari tanaman yang lunak, menimbulkan bercak-bercak hitam. Tanaman yang terserang akan layu dan mati. Pada batang terdapat miselium jamur berwarna putih seperti bulu dan pada serangan yang lebih lanjut terdapat sklerotium yang juga berada di sekitar tanah dekat dengan pangkal batang.

Gambar 3 busuk batang pada kacang tanah
Oleh: Anggi

Gambar 4 busuk batang pada pangkal batang
www.google.com/image/Sclerotium-rolfsii

Gambar 5 hifa dan sklerotia S. rolfsii
www.google.com/image/Sclerotium-rolfsii
Penyebab :
Dalam sistem klasifikasi, S. rolfsii dimasukan dalam filum Deuteromycota, kelas Agonomycetes, karena jamur ini tidak diketemukan spora seksual maupun aseksualnya atau disebut dengan miselia sterilia (Alexopoulos dan Mims, 1979). Akan tetapi di daerah subtropis jamur dapat membentuk basidiospora dan termasuk Corticium.

Daur hidup penyait:
Dalam lingkungan yang lembab, cendawan S. rolfsii membentuk miselium tipis, berwarna putih, teratur seperti bulu pada pangkal batang dan permukaan tanah di sekitarnya. Pada tingkat seksual, miselium biasanya membentuk sambungan apit.basidia berukuran 7-9 x4-5u, dengan 2-4 sterigma. Ukuran basidio spora sekitar 3,5-5×6-7. Pada miselium ini, kelak akan terbentuk banyak butir-butir kecil, berbentuk bulat atau jorong dengan permukaan yang licin. Butiran-butiran kecil ini mula-mula berwarna putih, kemudian menjadi coklat muda sampai coklat tua. Butiran ini dinamakan sklerotium. Sklerotium berperan sebagai alat bertahannya cendawan karena memiliki sifat yang sangat tahan terhadap lingkungan yang tidak mendukung (Agrios).
Sclerotium mempertahankan hidup dengan membentuk sklerotia yang dapat melekat pada pangkal batang tanaman yang terserang. Sklerotium kemudian jatuh ke tanah dan dapat bertahan lama hingga menjadi sumber inokulum pertanaman berikutnya. Kein dan Webster (1974)menemukan bahwa viabilitas (daya tahan hidup) sklerotia menurun setelah mengalami penggenangan kurang lebih 4 bulan. Perkembangan penyakit terjadi pada suhu 25-350C perkembangan yang maksimum terjadi pada suhu 30C. pangkal batang dan akar tanaman sakit berwarna hitam, kadang-kadang terdapat miselium pada tanaman sakit. Sklerotium biasanya melekat pada pangkal batang dan akar.

Teknik pengendalia:

Untuk mencegah meluasnya penyakit, tanaman yang sakit dicabut dan dibakar. Harus diusahakan agar tanah yang mengandung miselium dan sklerotium tidak tersebar. Karena ini dapat menyebabkan jamur atau cendawan baru berkembang. Perbaikan sanitasi agar daerah sekitar tanaman tidak lembab yang mendukung pertumbuhan cendawan.

Nematoda puru akar memiliki banyak tanaman inang dan menyerang sebagian besar tanaman yang dibudidayakan, hampir semua tanaman sayuran dan lebih banyak spesies tanaman lainnya. Nematoda dapat survive dengan lingkungannya seperti dalam keadaan yang tidak memungkinkan nematoda mengalami diapause yang bisa bertahan sampai kurang lebih 30 tahun. Nematoda memiliki tahap atau fase. Terdapat lima tahapan/ fase yang dihadapi oleh nematode, dari mulai telur sampai dengan dewasa. Dalam siklus hidupnya, nematode mengalami lima fase. Pada fase ke 3 dan ke 4 nematoda sudah dapat dibedakan antara jantan dan betinanya.
Nematode puru akar (Meloidogyne sp) merupakan salah satu patogen sbawah tanah yang menjadi kendala dalam pengembangan sayuran tingkat tinggi di daerah tropis dan inang utamanaya adalah wortel, mentimun, labu, kentang, kubis, terong, bayam dan tomat (Singh, 1978; Sherf dan Macnab, 1986). Tanaman yang terserang biasanya menjadi kurus, kerdil, hasil rendah dan memiliki kualitas rendah. Nematoda ini banyak menyerang tanaman Solanaceae. Nematoda puru akar secara ekonomi cukup penting pada tanaman Solanoceae terutama di daerah tropis (Dropkin, 1991). Hasil penelitian menunjukkan sekitar 500 – 800 larva Meloidogyne sp perkilogram tanah dapat menurunkan produksi Solanoceae sebesar 40 % (Sastrahidayat, 1985).

Nematoda puru akar dapat menyebar dengan perantara partikel tanah, alat pertanian, air irigasi, banjir atau drainase, kaki hewan dan badai debu yang menyebarkan nematoda secara lokal, sedangkan untuk yang jarak jauh melalui produk pertanian dan bibit tanaman.
Telur nematoda Meloidogyne spp. berbentuk bulat lonjong. Telur-telurnya diletakkan dalam kantong telur yang terdapat diluar tubuhnya dan disekresikan oleh sel-sel kelenjar rektum dan setalah pembuahan telur diletakkan dalam glatin dan dilepaskan secara bergerombol melalui vulpa. Tidak ada telur yang diletakkan di dalam jaringan tanaman tetapi telur bisa bertahan dalam tubuh nematoda.
Nematoda pada umumnya memiliki siklus hidup yang terdiri dari tiga fase yaitu larva I sampai larva IV dan nematode dewasa, begitu juga nematoda puru akar. Juvenil 1 bentunya hamper sama dengan fase telur, tetapi dalam telur telah terdapat benang halus, yaitu nematode.

http://plpnemweb.ucdavis.edu

Larva I berada dalam telur dan menetas menjadi larva instar II (375-500 mikron) x (12-15 mikron) dan larva ini bergerak diantara sel-sel tanaman dan tiba didekat silinder pusat, di tempat tersebut larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang akan menjadi makanannya, larva melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya tampa makan, selanjutnya menjadi jantan dan betina dewasa (Dropkin, 1991). Pada juvenil 2 ini nematoda telah dapat dibedakan antara jantan dan betinanya, nematoda yang jantan berbentuk seperti benang tetapi nematoda betina berbentuk agak menggembung dan lancip pada ujungnya.

http://nematology.umd.edu

Lama kelamaan juvenile 2 berkembang dan berganti kulit, dan setelah berganti kulit, maka nematode tersebut akan menjadi juvenile 3. Seperti halnya pada juvenile 2, pada juvenile 3 pun bentuknya mirip dengan juvenile 2.
Di dalam akar larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang menjadi makanannya, larva menggelembung dan melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa (Juvenil 4) yeng berbentuk memanjang di dalam kutikula, stadium ke empat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya (Dropkin, 1991). Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3 -0,4 mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12 – 15 mm melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, sedangkan nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina.
Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, keadaan tanaman inang, umur tanaman, besar partikel tanah.
Acid Fuchsin merupakan salah satu pewarna ungu yang terdiri dari garam (HCl atau asetat) dari rosaniline dan pararosaniline. Hal ini disebabkan karena hijau cemerlang kilau kristal yang menghasilkan solusi merah ketika dibubarkan. Ini digunakan dalam persiapan komersial pewarna lain Fuchsin dasar digunakan untuk noda kolagen, otot, atau mitokondria.